biografi tokoh

Sabtu, 16 Oktober 2010

Ikon Kemandirian Anak Muda


Dididik dengan disiplin keras Sang Ayah dan diasuh penuh kasih sayang Sang Ibu, membentuk pribadi Sys Ns menjadi seorang yang tegar, berani, namun tetap penuh kasih sayang. Di masa mudanya dia telah mandiri di tengah kerasnya kehidupan metropolitan. Istrinya, Shanty Widhiyanti, yang merupakan pilihan hatinya, kemudian menuntunnya pada arti hidup yang sesungguhnya.

Direktur Utama PT RADIO MUARA 106.6FM, Jakarta, ini ingin memantapkan diri di panggung politik setelah banyak berprestasi di dunia seni dan berbagai profesi.

Ayah tiga orang anak ini lahir di Semarang,18 Juli 1956. Terlahir dengan nama cukup panjang, Raden Mas Haryo Heroe Syswanto Ns Soerio Soebagio, akrab disebut Sys NS. Ketika itu keluarganya memang sudah tinggal di Jakarta. Tapi sang bunda yang sedang mengandungnya tujuh bulan sengaja pulang ke rumah ibunya (nenek Sys) di Semarang untuk melahirkannya. Demikianlah dia lahir di Semarang walaupun orangtuanya sudah tinggal di Jakarta.

Adat ibunya ini memang tidak hanya pada diri Sys seorang, tapi begitu juga dengan saudara-saudaranya yang lain. Setiap ibunya hamil 7 bulan selalu berangkat ke Semarang, rumah orang tuanya. Baru setelah si bay berumur 40 hari, kemudian kembali lagi ke Jakarta.

Sejak kecil, pria berdarah biru dari Solo ini sudah hoby main bola dan teater. Sehingga dia sering bolos sekolah hanya untuk main bola atau nongkrong di Taman Ismail Marzuki melihat orang-orang latihan teater.

Masa anak-anak dia bercita-cita menjadi pemain bola. Tapi cita-cita itu kandas karena keburu mengenal rokok dan suka begadang ketika dia masih kelas empat. Lalu dia pun bercita-cita menjadi presiden. Namun setelah tahu menjadi presiden itu susah akhirnya dia mengganti cita-citanya menjadi sutradara.

Tapi ternyata menjadi sutradara juga dulu peraturannya sangat susah. Malah lebih susah dari presiden, karena kadang nasib orang tergantung orang lain. Aturan-aturan demikian tidak disetujui Sys sama sekali sehingga dia dobrak. Namun, karena sudah membudaya akhirnya tidak berhasil. Lalu, sempatpPatah semangat, dia tidak mau jadi sutradara.

Melihat permainan dunia sutradara yang demikian, Sys yang ketika itu kuliah di Institut Kesenian Jakarta, jadi berpikir dua kali untuk meneruskan kuliahnya. Walaupun pria yang pernah menyutradarai beberapa pagelaran ini berhasil menjadi sutradara handal di kemudian hari, itu berkat perubahan yang juga merambah ke dunia hiburan.

Kemudian pada era reformasi ini, siapa pun bisa menjadi sutradara asal punya bakat dan keahlian. Bahkan sutradara yang dulu selalu mengatur nasib orang, sekarang kalah pada orang-orang baru muncul, anak-anak muda.

Sys remaja ditempa oleh ayah-ibu yang memberikan kasih sayang dengan cara yang sangat berbeda. Sang Ayah, Suryo Subagio, adalah seorang militer yang mendidik anak-anaknya dengan keras dan disiplin. Sang ayah selalu menanamkan berbagai disiplin seperti, pulang sekolah harus tidur, harus minum susu, harus mengaji, harus belajar. Kalau perintah itu tidak dituruti, ayahnya tidak segan-segan menghukum. Berbeda dengan Sang Ibu, Siti Suciati, yang memperlakukan anak-anaknya sangat lembut. Sang Ibu sering membela Sys dari kemarahan Sang Ayah walaupun sebenarnya Sys nakal.

Karena disiplin Sang Ayah itu dianggapnya kaku, Sys pun sering berontak. Ini membuatnya sering disebut si pemberontak di keluarga. Masih tersimpan di ingatan Sys, pada jam-jam tidur, dia membohongi ayahnya dengan menutupi guling dengan selimut agar seolah-olah sedang tidur padahal dia sudah lompat lewat jendela dan pergi main. Kemudian setelah jam 12 masuk lagi dan berlagak tidur lagi. Ini sering terjadi namun akhirnya ketahuan juga oleh ayahnya dan sudah pasti kena hukum lagi.

Dalam perjalanan hidupnya, pengaruh pendidikan disiplin keras Sang Ayah dan kasih sayang Ibu itu saling mengisi. Di satu pihak berani atau disiplin dan di pihak lain baik atau selalu merasa kasihan. Dua-duanya tertanam dalam dirinya. Sifat tidak tegaan dalam dirinya turun dari sang ibu sementara sifat berani dan disiplin turun dari sang ayah.

Si pemberontak, mungkin sebuah sebutan yang tidak berlebihan diberikan pada pria mandiri ini. Kelas satu SMA saja dia sudah tidak tinggal dengan keluarganya. Ayah, ibu, dan saudara-saudaranya ketika itu sudah pindah ke Semarang karena tugas ayahnya. Pada mulanya Sys juga ikut pindah, tapi kemudian dia tidak betah maka dia kabur lagi ke Jakarta.

Keluarga yang selalu mencarinya kemudian menemukannya di Jakarta. Dia pun dibawa kembali ke Semarang. Namun dasar tidak betah, dia kembali kabur dan berangkat lagi ke Jakarta. Akhirnya Sys mengatakan pada orang tuanya agar jangan menghiraukannya lagi, tidak usah memikirkan biayanya. Dia mengaku bisa cari duit sendiri dan berjanji akan tetap sekolah. Orangtuanya pun mempercayai dan merestuinya.

Kemudian dia tinggal di rumah saudara. Namun merasa tidak enak di rumah keluarga karena tidak merdeka, akhirnya dia pindah dan tinggal sendiri. Berani tinggal sendiri, dia pun sekolah sambil cari duit sendiri jadi disc jockey. Ternyata uangnya malah lebih banyak dibanding ketika ikut orang tua.

Pria yang punya motto hidup, sesudah lahir kudu hadir, melulu hadir labas mengalir, ini, dalam pergaulannya tidak mau hanya sama rata saja. Jika berkumpul sekian orang dia tidak mau sama seperti yang lainnya saja. Dia selalu ingin menunjukkan nilai lebihnya atau ingin lebih menonjol dari yang lainnya. Dia selalu berusaha menonjol positif, tapi jika menonjol positif tidak bisa, kadang menonjol negatif pun dia lakukan.

Sifatnya yang selalu menonjol dari temannya ini sudah dimiliki sejak kecil. Bahkan mungkin waktu dia lahir di rumah sakit, dia sudah sengaja menangis paling keras diantara bay lainnya supaya digendong suster.

Sifatnya yang kreatif dan inovatif membuatnya selalu mengagumi sifat anak muda yang sering menjadi sumber inspirasi dan penggerak suatu perubahan. Dalam pandangan Sys, kehidupan anak muda selalu menuntut tiga hal yakni sekolah, pergaulan, dan duit. Ketika masih mahasiswa, dia pernah ingin meraih ketigatiganya sekaligus, kuliah di IKJ, bergaul dengan sesama artis dan mahasiswa, dan cari duit sebagai disc jockey.
Setahun dua tahun dilaluinya akhirnya dia sadari bahwa itu tidak gampang bahkan tidak mungkin. Kesimpulannya, manusia ini hanya bisa mengambil dua di antara tiga itu. Kalau bisa mengambil ketiganya secara bersamaan dan ketiganya berhasil pula, itu luar biasa.

Sampai pada keputusan harus meninggalkan salah satu di antaranya, akhirnya dia mengorbankan kuliahnya. Kenapa Sys memilih mengorbankan kuliah karena dia merasa di rumah pun dia bisa balajar atau dengan teman-temannya pun dia bisa belajar. Sementara jika pergaulannya yang dia korbankan, dia merasa jika mau bergaul lagi nanti sudah tidak mungkin. Dan jika cari duit yang dia korbankan, dia merasa tidak punya pengalaman kerja, nanti sampai tua dan uang juga tidak terkumpul. Akhirnya Sys berhenti kuliah di tingkat dua tapi cari uang semakin giat dan pergaulannya juga semakin luas.

Meninggalkan bangku kuliah bukan berarti Sys langsung melupakan segala sesuatu tentang sekolah dan ilmu. Ketika dia merasa sudah memiliki uang, dia selalu beli buku. Walaupun dia tidak selalu membaca buku tersebut, tapi setiap ke toko buku dia selalu beli buku. Dalam pikirannya, suatu saat buku-buku tersebut pasti dia perlukan.

Kebiasaan beli itu membuat rumah Sys dipenuhi buku. Buku-buku dibaca kala ada keperluannya seperti ketika dia tiba-tiba ingin bikin naskah sinetron atau sandiwara radio tentang kenakalan remaja. Lalu dia baca buku psikologi remaja yang pasti dia miliki.

Sys senang belajar sendiri dan kala tidak mengerti dia menelepon teman-temannya seperti Sarlito, Kak Seto dan yang lainnya. Kalau yang dia perlukan soal anak-anak, dia telepon Kak Seto, demikian juga yang lainnya sesuai dengan bidangnya. Dari luas pergaulannya, membuat Sys memiliki banyak teman dari berbagai kalangan, dari tukang beca sampai presiden.

Multi Talent dan Profesi
Pria yang boleh disebut multi talent atau multi profesi, ini memiliki banyak keahlian dan telah pernah melakukan banyak hal. Main bola, main basket, nyanyi di kaset, presenter, penyiar, direktur radio semua pernah dia gumuli. “Saya pernah melakukan apa saja kecuali peragawan dan tukang sulap” katanya bergurau.

Dari tidur di studio, belajar siaran, jadi dubber iklan juga pernah dia lakoni. Iklan-iklan dulu seperti iklan-iklan produk top minuman, banyak yang pengisian suaranya dilakukan oleh Sys. Mengarang lagu juga pernah dia lakukan walaupun musiknya hanya pakai mulut atau insting saja. Semua yang dia lakukan selalu menghasilkan uang. Maka dia pikir kalau di Jakarta ini gampang cari duit tapi menjadi kaya tidak gampang karena banyak gangguan dan godaannya.

Berbagai hal yang dilakukannya selalu berhasil dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Tapi walaupun demikian, Sys sendiri mengakui talentanya yang banyak ini membuatnya sedikit tidak fokus dalam satu hal. Apakah itu suatu hal yang bagus atau jelek dia sendiri tidak tahu. Tapi dia merasa bahwa hal demikian ada bagusnya dan ada juga buruknya.

Berbagai pengalaman yang dimilikinya itu begitu terasa manfatnya ketika masuk partai. Karena ketika orang bicara apa saja dia bisa mengerti walaupun tidak sampai menguasai. Ketika orang membicarakan radio dia mengerti, membicarakan koran juga dia tahu karena pernah jadi wartawan, jadi reporter tahun 70-an bahkan jadi Pemred tabloid Bintang dan memimpin Majalah Prambors. Di Majalah Mode dan Majalah Swa juga dia pernah jadi penulis.

Hampir semua pernah dia lakukan khususnya yang berhubungan dengan dunia seni hiburan. Jadi penulis skenario, sutradara, pemain film bahkan humor seperti ‘Sersan Prambors’ dia pernah ikuti walaupun tidak begitu berani di panggung. Tapi kalau di kaset dan di film dia cukup berani membuat humor.

Ketika menggeluti disc jockey , Sys pernah memperoleh penghargaan sebagai The Best of Disc Jockey of Indonesia pada tahun 1975. Dia merupakan disc jockey terbaik seluruh Indonesia saat itu. Atraksi yang ketika itu diselenggarakan di Istora Senayan, disaksikan oleh puluhan ribu orang. Besoknya dia masuk majalah dan menjadi berita. Sejak itu karirnya di dunia hiburan mulai dikenal orang. Kemudian Sys bekerja di radio menjadi penyiar popular, kemudian menjadi MC, lalu menjadi promotor showdisc.

Tambah Satu Teman Tiap Hari
Berbagai keberhasilan Sys di lingkungan pekerjaan seakan diikuti juga dengan keberhasilannya di bidang organisasi. Hingga tahun 1976 Sys dipercaya menjadi Ketua Kasta (Kekerabatan Antar Siswa se Jakarta) Prambors, kemudian menjadi Ketua Laboratorium Seni Prambors, dia pernah menjadi Ketua Gabungan Artis Nusantara, pernah Ketua Parfi periode 1998-2002, pernah menjadi Humas atau salah satu ketua di PRSSNI dan lain sebagainya.

Pengalaman berorganisasi tersebut juga jadi sungguh bermanfaat begitu Sys harus terjun ke dunia politik sejak tahun 1999 sebagai anggota MPR. Begitu juga ketika terlibat di Partai Demokrat sebagai penggagas dan pendiri yang kemudian menjadi salah satu Ketua DPP. Sys merasa tidak canggung lagi. Bahkan dia bertekad ikut bersaing dalam merebut kursi nomor satu di partai tersebut sebagai ketua umum.

Dari pengalamannya itu pulalah sehingga dia dengan berani dan yakin menyarankan kepada para anak muda agar sejak sekarang sudah mulai mengikuti partai atau masuk organisasi underbow partai. Dengan demikian sudah siap sehingga begitu umur sudah pas baru ikut ke partai dan merebut prestasi.

Mahalnya pergaulan bagi Sys dan begitu banyaknya temannya memang cukup beralasan karena di dalam hatinya, dia punya prinsip akan selalu berusaha menambah satu teman dalam satu hari. Bahkan jika dalam satu hari dia tidak mendapat teman karena sesuatu hal seperti dia hanya di rumah misalnya, maka besoknya dia merasa berkewajiban untuk mendapat dua teman. Dan lebih dari itu, Sys berprinsip jangan sampai kehilangan satu temanpun.

Sys memang besar dalam pergaulan bahkan belajar di jalanan. Jika boleh diistilahkan, dia ini lulusan Hard Work University, tempaan keras. Dia pernah tidur di pos Hansip, pernah membacok orang sampai masuk sel kenakalan remaja. Teman-temannya dari berbagai kalangan bahkan preman juga banyak kenal dengan dia. Namun akhirnya dia sudah sampai pada kesadaran bahwa sekarang hidupnya tinggal untuk keluarga dan untuk bangsa kalau bisa. Dia hanya ingin jika kelak dia tua dan mati hendaknya namanya tercatat.


Ilmu Kalaunologi

Jika Jayasuprana dikenal dengan Kelirumonologi-nya, Sys dikenal dengan Ilmu Kalaunologi. Sys dalam mengerjakan sesuatu selalu dengan perencanaan yang matang. Dalam membentuk rencana tersebutlah dia menggunakan ilmu kalaunologi-nya, berkalau-kalau. Misalnya, kala dia hendak bikin partai, dia selalu berpikir lebih dulu misalnya, kalau gagal bagaimana. Kalau gagalnya begini, bagaimana. Kalau sukses, bagaimana. Terus, kalau-kalau yang lain sampai risiko sesuatu tindakannya itu dirasakannya menipis.

Satu contoh lain. Kala dia ingin punya rumah, dia lebih dulu berpikir, duit berapa, dengan duit segitu mungkin dapatnya di daerah pinggiran. Tapi kemudian dia berpikir, kalau sabar, tabung dulu tapi uang jajan berkurang. Kalau nggak jajan sama sekali sudah terkumpul sekian. Kalau bekerja lebih keras lagi? Berarti harus begini atau begitu. Demikian dia berpikir.

Demikian juga sebaliknya. Misalnya, bila dia memberikan uang pada orang, dia akan bertanya dalam hati, kalau dikasih uang bagaimana rasanya ya? Tentu dia senang. Atau sebaliknya jika dia hendak menampar orang, dia selalu merenung dulu, kalau dia yang ditampar bagaimana ya? Pasti sakit. Dengan berpikir demikian akhirnya dia menghidari menampar orang. Begitulah Sys menjalankan kehidupan, selalu menjalankan kalaunologi agar setiap pekerjaannya berhasil dan terhindar dari risiko besar.

Karena itu pula, Sys menjadi orang yang selalu berbuka hati menerima kritik dan saran dari teman. Dan sebaliknya tidak segan menegor atau mengkritik temannya yang dianggap tidak benar. Dia selalu ingin agar dengan temannya ada perdebatan sehingga saling isi. Tidak mengherankan jika mendengar Sys mengatakan pada temannya misalnya, “Tolol lu, kenapa lu tolol, lu gini, gini.” Maksud dia supaya teman tersebut sadar bahwa dirinya tolol. Dan sebaliknya, apabila dia sendiri yang salah, dia berharap temannya menegornya misalnya dengan mengatakan, “Sys! salah lu, goblok lu, gini, gini…”


Bertemu Istri Soleha

Benar, Tuhan memang baik pada Sys yang masa mudanya dikenal sebagai anak muda jalanan. Ketika dia hampir tidak memikirkan hari tuanya, Tuhan mempertemukannya dengan seorang istri yang soleha, Hj Shanty Widhiyanti, SE, putri dari Syaiful Hamid.

Pada awal pacaran, Shanty tidak terima dengan pergaulannya. Memang Sys dan istrinya berasal dari kultur yang sangat berbeda. Sys sendiri boleh disebutkan seorang anak jalanan sedangkan istrinya anak sekolahan atau anak rumahan. Sys nyaris mengesampingkan agama sedangkan istri seorang agamis.

Tapi Sys sangat menyukai kewajaran istrinya. Walaupun usia keduanya terpaut jauh yakni sekitar 13,5 tahun namun itu bukan jadi penghalang cinta mereka. Mereka jatuh cinta dan akhirnya menikah serta saling menyesuaikan.

Menarik jika mengetahui roman pertemuan suami-istri yang berasal dari kultur yang berbeda ini. Waktu itu, Sys sedang aktif di Prambors yakni bikin majalah dan menekuni dunia fotografer sekitar tahun 1986. Saat itu Prambors bikin KMP (Kawula Muda Prambors), sebuah organisasi remaja.

Berawal suatu saat, Shanty, mengantar temannya datang ke Prambors. Shanty yang sebenarnya tidak berminat ikutan KMP, ketika itu dipaksa-paksa oleh temannya sehingga ambil formulir juga. Sys sendiri ketika itu belum tahu menahu mengenai KMP itu.

Sesudah terkumpul banyak anggota, teman Sys minta pertolongannya bikin ide kreatif untuk anggota KMP ini. Sys pun kemudian minta foto-foto pendaftar dan melihatnya satu persatu, akhirnya terseleksilah beberapa foto. Ketika melihat foto Shanty, Sys sudah merasakan daya tarik gadis yang satu itu.

Kemudian diadakanlah peresmian, di tempat yang cukup enak di Sahid. Sys sendiri menjadi MC untuk memperkenalkan anggota-anggota KMP ini. Saat acara mulai, anggota pun dipanggil satu persatu. Dan pada saat giliran Shanty yang dipanggil, Sys pun mulai mengganggu dan sengaja melama-lamakan. Maksudnya agar si gadis selalu ingat sama dia.

Ketika itu teman-teman Sys juga sudah memperhatikan kecantikan gadis pilihannya tersebut. Dan ketika mengetahui bahwa Sys telah mengejarnya, temannya malah berani taruhan bahwa gadis tersebut tidak bakalan bisa didapatnya. Walaupun kepada temannya dia mengatakan musti dapat, tapi dalam hati juga terdapat kebimbangan saat itu. Dia merasa tidak mungkin si gadis tersebut mau menjadi pacarnya, tapi dia suka. Akhirnya dia berpikir yah sudah, dijalani sajalah.

Setelah terbentuk pengurus, ketuanya ingin bikin sebuah event. Untuk itu panitia sudah disusun. Ketuanya kembali meminta bantuan Sys. Sys memperhatikan susunan panitia event, tapi tidak ada nama gadisnya dalam susunan tersebut. Dia pun mengatakan pada temannya bahwa dia bersedia membantu dengan syarat, Shanty dimasukkan menjadi salah satu panitia dan dia jadi wakilnya saja. Begitulah akhirnya Sys semakin banyak kesempatan bertemu Shanty yang membuat mereka semakin dekat.

Suatu ketika sepulang rapat, Shanty yang ketika itu bawa mobil sendiri sekalian antar teman-temannya ditangkap Polisi. Tidak punya SIM, akhirnya STNK-nya yang diambil. Shanty dan temannya menelepon ke Prambors minta bantuan. Teman sekantor Sys yang menerima telepon saat itu karena mungkin naksir pada salah seorang dari teman Shanty atau mungkin pada Shanty sendiri, pergi sok nolongin sendiri tanpa bilang-bilang pada Sys. Tidak berhasil, ditelepon lagi ke studio, pada Sys sendiri. Dia berangkat ke rumah Shanty kemudian ke Polda ambil STNK-nya. Dari situ mereka tambah dekat.

Sepulang mengambil STNK, Sys yang menyetir ketika itu sengaja mengantar teman-teman Shanty lebih dulu. Shanty sendiri belakangan karena mobil Sys memang ada di rumah Shanty. Tapi pas lewat Bioskop Jakarta Theater, lihat film, pikiran Sys langsung bekerja. “Wah bagus nih film, nonton yuk” kata Sys mulai menggoda Shanty. Awalnya Shanty menolak karena sudah ada janji dengan teman-teman sekolahnya. Tapi karena Sys mengatakan biar nonton bareng dengan teman-temannya akhirnya Shanty bersedia.

Sys sendiri sebenarnya juga sudah ada janji bertemu di Prambors dengan seorang cewek yang waktu itu sudah artis top. Namun untuk mengatasinya dia akhirnya menelepon salah seorang temannya di Prambors yang bernama Marwan agar menemani cewek itu nonton, makan, atau apa saja dan biayanya nanti Sys sendiri yang ganti.

Karena takut temannya si Marwan dan cewek itu malah nonton di tempat yang sama di Jakarta Theater maka kepada Shanty, dia bilang agar nontonnya di tempat lain saja. Dan walaupun kembali Shanty merasa tidak enak dengan teman-temannya yang sebelumnya sudah janjian nonton bareng di Jakarta Theater tapi karena berbagai alasan yang diberikan Sys, akhirnya Shanty bersedia nonton di tempat lain.

Mereka akhirnya nonton di daerah Kota di Century Theater. Tiket bioskop yang masih tersimpan sampai sekarang menjadi saksi dari bersatunya dua hati. Sejak itulah roman kehidupan keduanya dimulai, mereka resmi berpacaran.

Sejak awal, Sys sudah meyakinkan Shanty bahwa cintanya tidaklah main-main. Sys pun membuktikannya, tujuh tahun keduanya berpacaran tanpa ganti-ganti. Sys menunggu Shanty hingga menyelesaikan Sarjana Ekonominya di Universitas Padjajaran, baru melangkah ke pelaminan.

Kini wanita yang masih kuliah Sastra Jepang di Universitas Al-Azhar, tempat SMA-nya juga dulu, itu telah melahirkan tiga orang anak bagi Sys. Ketiga anaknya Syanindita Trasysty, Sabdayagra Ahessa, Sadhenna Sayanda, kini masih duduk di kelas 5, kelas 4, dan TK.

Selama perjalanan hidup mereka, Sys merasa banyak sekali kehidupannya dipengaruhi oleh istrinya, yang sebelumnya suka berfoya-foya akhirnya bisa berubah menjadi hemat.

Anak Muda Kaya
Sebelum mengenal sang istri, Sys boleh disebut merupakan seorang anak muda kaya. Disebut demikian karena sewaktu masih muda dia sudah sering bikin show yang banyak menghasilkan uang di mana sekali show bisa untung Rp 25 jutaan. Tahun 70-an saja misalnya, anak-anak muda paling jajan sekitar Rp 5000 tapi dikantong Sys bisa jutaan. Tapi apa pun yang telah dihasilkan Sys kala itu selalu habis, tidak pernah punya apa-apa, foya-foya saja. Sehingga ketika masih pacaran, istrinya pernah mengingatkannya, “Kok kamu setiap hari makan di sea food, nonton, foya-foya, bayarin orang, kamu nggak nabung?” katanya.

Menabung? Buat apa? Besok kan dapat lagi, bikin show, begitu pikiran Sys ketika itu. Namun lambat laun Sys akhirnya menyadari kebenaran yang dikatakan pacarnya tersebut, Sys berpikir, kalau tiba-tiba dia nggak laku lagi atau mungkin dia sakit? Akhirnya Sys bisa berhemat, sehingga bisa beli rumah, beli mobil berkat nasihat Shanty.

Hidupnya jadi tertib, kerja benaran sejak pacaran dengan Shanty. Namun Sys sendiri juga banyak mempengaruhi istrinya dalam kehidupan. Misalnya, cara berpikir dan pergaulan. Karena si istri bukan anak jalanan, jadi tidak begitu mahir dalam ilmu pergaulan. Tapi intinya mereka jadi saling mendapat hal-hal positif.

Dalam hal pekerjaan termasuk ketika masuk partai, Sys merasa sambutan istrinya baik-baik saja. Dan sejauh ini, apa yang dia pikir dan dia lakukan, walaupun kadang tanpa ijin, tanpa kompromi, tanpa ngobrol dulu dengan istri, tapi menurut dugaannya istrinya merasa itu semua benar saja sebab istrinya juga sudah tahu bahwa setiap tindakannya selalu terencana dengan matang.

Mendidik Anak Sebagai Mitra
Mengingat cara mendidik bapak dan ibunya yang satu pihak keras dan satu pihak lagi lembut membuat Sys seakan mendapat pelajaran berharga dalam mendidik anak-anaknya. Dia tidak mau seperti bapaknya memperlakukannya maupun seperti ibunya mendidiknya.

Jika bapaknya selalu memperlakukannya sebagai anak bukan mitra, dia ingin anak-anaknya sekarang sekaligus menjadi mitranya. Menurutnya hanya kebetulan anak-anak itu menjadi anaknya dan dia menjadi bapak mereka.

Menurutnya, sebenarnya keduanya sama-sama punya kewajiban. Bapak berkewajiban menghidupi dan menyekolahkan anaknya sedangkan anaknya berkewajiban memintarkan dirinya sendiri. Dan jika si anak pintar, itu sebenarnya bukan cuma untuk kesenangan si anak saja tapi kesenangan si bapak juga.

Sys pada anaknya selalu menempatkan dirinya sejajar. Dia merasa anaknya harus menjadi sahabatnya juga. Di rumahnya, demokrasi dia hidupkan supaya anak itu tidak egois. Dia menempatkan anak-anaknya punya hak suara juga. Sehingga kalau mau pergi, misalnya, dia selalu bertanya kepada anak-anaknya ke mana, nonton, makan, anaknya yang menententukan sedangkan dia tinggal mengikuti. Namun jika tidak ada keputusan, baru dia bersama istrinya yang berembug.

Dia ingin anak-anaknya punya kemerdekaan. Maka anak-anaknya selalu dipersilahkannya mengikuti kegiatan apa saja asal yang positif. Kegiatan ekstrakurikuler seperti les piano, les gitar dan entah les apa saja boleh. Dia tahu dengan menguasai atau jago piano, jago komputer saja, tidak usah sekolah formal pun bisa hidup, namun dia tidak mau memaksa. Bahkan walaupun kata gurunya misalnya, si anak ada bakat piano tapi si anak sendiri tidak mau, susah dan tidak bisa dipaksa. Namun demikian Sys tetap berkeinginan agar anak-anaknya punya skill bukan dari sekolah formal saja. ►ti/atur-juka

*** TokohIndonesia DotCom (Ensiklopedi Tokoh Indonesia)

0 komentar:

Posting Komentar

LINK


Get our toolbar!